Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang pada akhir November 2025 meninggalkan luka mendalam bagi banyak warga. Salah satunya dirasakan Sulaiman (4
Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang pada akhir November 2025 meninggalkan luka mendalam bagi banyak warga.
Salah satunya dirasakan Sulaiman (43), warga Kecamatan Karang Baru, yang kehilangan rumah dan hampir seluruh harta bendanya akibat terjangan air bah.
Malam sebelum bencana, Sulaiman masih membantu tetangganya menyelamatkan barang dagangan dari genangan air yang terus meninggi. Hujan deras telah mengguyur wilayah itu selama berhari-hari.
Saat air mencapai pinggul, ia memutuskan pulang untuk memastikan keselamatan istri dan anak-anaknya. Kekhawatiran Sulaiman semakin besar mengingat banjir bandang besar pernah melanda Aceh Tamiang pada 2006 silam.
Dalam kondisi darurat, Sulaiman mengemasi pakaian, dokumen penting, serta sisa beras di rumah. Ia membawa istri yang baru menjalani operasi caesar dan dua anaknya menuju rumah sakit untuk menjemput bayi bungsunya yang masih dirawat.
Ketika banjir bandang menerjang dini hari, Sulaiman dan keluarga bersama para pasien terpaksa bertahan di lantai dua rumah sakit selama hampir sepekan.
Setelah air surut, Sulaiman kembali ke dusunnya dan mendapati rumahnya telah rata dengan tanah. Tak memiliki tempat tinggal, ia membangun gubuk darurat dari sisa terpal dan seng bekas di pinggir jalan. Bersama ibu yang sakit serta anak-anaknya, ia bertahan dalam kondisi serba terbatas. Debu, hujan, dan panas menjadi tantangan sehari-hari, bahkan memaksanya memisahkan istri dan bayi demi keselamatan mereka.
Harapan datang pada awal Januari 2026.
Dompet Dhuafa menyediakan Rumah Sementara (Rumtara) bagi keluarga Sulaiman. Hunian sederhana namun layak itu menjadi titik balik setelah hampir sebulan hidup di tenda darurat.
Kini, Sulaiman menanti kepulangan istri dan anak-anaknya untuk kembali berkumpul di rumah baru. Baginya, Rumtara bukan sekadar bangunan, melainkan awal kehidupan yang lebih aman, layak, dan penuh harapan.




COMMENTS